Selasa, 11 Agustus 2020

Zona (Nya) man katanya



2020, baru setengah perjalanan.

Tapi sudah terlalu banyak hal-hal yang membuat kita harus menghela nafas panjang. Tahun ini sudah terlalu banyak meninggalkan sedih yang teramat dalam.


Banjir di awal tahun, cukup buat terkejut, kan? Atas segala pengharapan yang baru saja kita haturkan baik-baik di pergantian tahun ini.


Juga kita saksikan, kisah romansa sang bintang yang harus usai di dunia karena kematian telah menyapa. Tanah air kehilangan salah satu figur terbaiknya. Tak memandang usia dan siapapun ia.


Yang lebih pilu dari apapun itu, wabah yang terjadi hari ini buat pontang-panting seluruh dunia. Pendemi ini datang merenggut orang-orang terkasih kita. Manusia-manusia terbaik, puluhan pahlawan kita meregang nyawa di garda terdepan.


Dan kejadian lainnya, fenomena alam yang membuat keadaan semakin pelik dan membuat kita semakin takut. Belum usai pandemi ini mereda, kita dikagetkan dengan dentuman misterius yang terdengar, juga kabar sekawanan gunung api yang tiba-tiba aktif kembali.


“Dear Bumi, are you okay?”

“Cukup, tahun ini terlalu banyak kesialan dan kehilangan yang terjadi.”

"Oke 2020, besok-besok, kekacauan apa lagi yang mau dateng?"

"2020 tahun kesedihan, ada yang nggak beres dengan ini semua"


Di laman sosial media kutemukan banyak ungkapan kekecewaan dan kesedihan atas bergulirnya tahun ini. 

Kita benar-benar berduka, atas segala kekacauan dan kehilangan, atas segala duka yang hanya menyisakan air mata.


Belum lagi, semua orang sudah mulai putus asa setelah satu bulan lebih dikarantina, kan?


Jadi teringat, salah satu kisah Rasulullah.

Peristiwanya dikenal dengan tahun kesedihan. 

Iya, tahun itu, nabi sedang dalam kondisi yang sulit dalam menyampaikan kebaikan kepada penduduk mekkah. Lalu tiba-tiba beliau harus ditinggal kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya,


Khodijah istri yang paling ia cintai dan Abu Thalib paman yang selalu jadi back up perjuangan dakwahnya, semuanya Allah panggil dalam kurun waktu singkat, sekejap dan secepat itu.


Sulit terbayang, sesedih apa hati rasul? Gimana rasanya kalau kita lagi di kondisi sulit lalu kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita? 


Tapi, tunggu. Ternyata bukan itu yang membuat hati rasul sedih berlarut-larut. Bukan karena ditinggal oleh orang tersayang. Karena beliau tahu betul segala yang dimiliki sejatinya akan kembali kepada-Nya. 


Tapi rasul sedih karena setelah kepergian keduanya, peluang dakwah semakin sempit, dan kebaikan yang semula terbuka lebar kemudahannya untuk tersebar luas, kini tak lagi ada. 


Rasul sedih karena kesulitan yang ia hadapi membuat peluang kebaikan itu tak lagi sama.


Terus, apa kabar kita?

Dengan segala kesulitan yang terjadi hari ini, kita masih terlalu berfokus dengan kehilangan dan nggak jarang menyalahkan keadaan, terlalu takut dengan segala kemungkinan terburuk, tanpa pernah khawatir dengan kebaikan-kebaikan yang mungkin peluangnya semakin sempit dan seringnya, berlalu begitu saja.


Iya, karantinaku masih banyak diisi dengan segala macam yang menyenangkan dan nggak jarang melalaikan, dengan dalih masih banyak waktu yang kupunya. Membatasi diri dari berbuat baik dengan dalih keadaan yang belum pulih. Zona (ny)aman, katanya.


Pemakluman-pemakluman atas diri yang terus di-iya-kan, padahal kita nggak tahu, mungkin esok lusa kesempatan berbuat baik tak lagi jadi milik kita. 


"Dear myself, are you okay?"


Ternyata, ada yang lebih sakit dari bumi. Ya itu aku, dengan segala kode dari-Nya sampai hari ini, tak cukup buatku bergeming untuk memperbaiki diri dan mengalihkan perhatian dari dunia yang semu.


Semoga lekas sembuh Bumi, semoga lekas sembuh diriku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANDIWARA DEMI MENCAPAI KEBAHAGIAAN SEMENTARA

 Wanita ini hidupnya penuh dengan keberpuraan. entah bagaimana bisa memahaminya. sungguh tak habis fikir. dulu dia ceria tanpa beban, hidupn...