Pernah seorang teman berkata tentang cinta pertama yang bertahan 10 tahun lamanya yang ia pendam sendirian. Yang ia bawa dalam diam. Tanpa pernah laki-laki itu tahu tentang perasaan yang ia punya.
Pernah seorang kawan bercerita tentang ia yang mengagumi lelaki yang baik akhlaknya, merasa bahwa dia adalah calon imamnya di masa depan. Dengan segala keseriusan dia ingin membawa ini ke jenjang yang lebih serius. Lewat murobbinya ia mengajukan taaruf. Sekali lagi ia melakukan semuanya dalam diam. Walau berakhir tanpa diketahui lelaki tadi, setidaknya ia pernah berjuang demi cintanya tanpa berakhir penolakan ataupun rasa malu.
Ada pula yang mengagumi lelaki lain, yang sekali lagi dalam diam. Namun kali ini ia memilih lelaki yang mau memperjuangkannya. Lewat jalan taaruf ia memutuskan menerima pinangan lelaki itu.
Tapi ada satu cerita yang paling membuatku cemburu dan iri.
Di suatu waktu teman pernah berkata ‘saat ini aku jatuh cinta sama Allah, benar-benar cinta. Dan aku tidak mau rasa ini terganggu sedikitpun’. Namun tiba-tiba ia dihadapkan pada perasaan cinta pada mahluknya. Dan tahu akhirnya apa? Akhirnya ia memutuskan menikah, semata karena ia takut perasaan cintanya pada Allah terkalahkan perasaan cinta pada mahluknya.
Tidak, dia tidak menikah dengan lelaki yang dikaguminya, ia menikah dengan lelaki yang mampu melebarkan sayap dakwahnya. Jauh lebih baik bukan?
Dari kesemua cerita itu aku tahu, bahwa wanita itu benar-benar ahli dalam menyembunyikan perasaannya. Dalam diam ia mampu meredam rindu yang menggebu, dalam diam ia mampu memendam semua emosi rasa yang tak mungkin dialirkan.
Tapi jauh di atas itu semua. Perasaan takut dan cinta pada Allah lah yang bisa mengalahkan semuanya. Karena takut Allah makai ia tak pernah berani mendekat, karena takut Allah ia tak berani mengungkap perasaanya dengan cara yang tak halal. Karena ia sadar perasaan cinta seperti itu terlalu remeh untuk bisa mengalihkan dirinya dari banyak peran dakwahnya di masa muda. Dan aku iri pada mereka yang mampu seperti itu.
Kata-kata bahwa ‘aku jatuh cinta sama Allah’ bukan kata yang asal ucap. Itu adalah kata yang butuh komitmen. Yang mampu mengalahkan rasa yang kita pendam dalam-dalam pada siapapun itu. Dan nyatanya saat kita mampu menemukan rasa cinta pada Allah, kelak kita akan dipertemukan dengan cinta yang jauh lebih baik. Yang tak membuat kita putus asa memendamnya yang tak membuat kita sakit hati dibuatnya.
Bila perempuan jatuh cinta, semua memang terasa indah, apapun tentangnya selalu mengagumkan, membuat hatimu berdesir.
Bila sudah siap menikah maka segerakanlah, kita pun diperbolehkan menyatakan -melalui wali- dengan sebaik-baik cara yang dianjurkan dalam islam.
Namun biarkanlah perasaan itu tersembunyi, apabila saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Yakinlah Allah dengan segala kekuasaanya akan mendatangkan pangeranmu di saat yang tepat untuk kelak bersanding dalam halalnya cinta di pelaminan.
Selamat mencari cinta pada Allah yang bisa membuat kita lupa akan cinta dalam diam kita pada mahluknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar